Selasa, 29 Desember 2015

Hati yang Tak Pernah Tersampaikan

Matanya begitu indah, dengan lentik bulu mata yang melengkapi kecantikannya. Di malam keakraban ini lagi-lagi aku hanya dapat memandang setengah wajahnya, tidak lebih. Aku selalu merasa minder untuk mendekatinya. Cewek yang tinggal di kost elit, biasa makan di tempat yang mahal, biasa memegang handphone I-Phone terbaru itu sama sekali bukan jangkauanku yang hanya tinggal di kost yang kumuh, handphone pabrikan tiongkok dan setiap harinya sering makan mie instan, itupun dua kali sehari.
Awal aku mengenalnya di saat ospek jurusan dulu, saat kami diberikan tugas untuk mencari biodata teman-teman angkatan satu jurusan. Si cantik itu bernama Arin. Saat awal aku melihatnya, aku sudah tertarik kepadanya. Ingin sekali aku mengenalnya lebih.