Selasa, 29 Desember 2015

Hati yang Tak Pernah Tersampaikan

Matanya begitu indah, dengan lentik bulu mata yang melengkapi kecantikannya. Di malam keakraban ini lagi-lagi aku hanya dapat memandang setengah wajahnya, tidak lebih. Aku selalu merasa minder untuk mendekatinya. Cewek yang tinggal di kost elit, biasa makan di tempat yang mahal, biasa memegang handphone I-Phone terbaru itu sama sekali bukan jangkauanku yang hanya tinggal di kost yang kumuh, handphone pabrikan tiongkok dan setiap harinya sering makan mie instan, itupun dua kali sehari.
Awal aku mengenalnya di saat ospek jurusan dulu, saat kami diberikan tugas untuk mencari biodata teman-teman angkatan satu jurusan. Si cantik itu bernama Arin. Saat awal aku melihatnya, aku sudah tertarik kepadanya. Ingin sekali aku mengenalnya lebih.
Namun tugas ospek tetaplah tugas ospek, walau aku berhasil mendapatkan biodatanya, perkenalan kami hanya sampai di situ saja. Mungkin sekarang dia sudah lupa dari mana aku, di mana kostku, atau malah siapa namaku.
“Baiklah, karena sudah larut, sekarang teman-teman semua dipersilahkan untuk beristirahat di kamar masing-masing” tutup MC acara makrab kali ini, berusaha terlihat semangat walau terlihat dia begitu kelelahan. Beberapa temanku ada yang memilih langsung tidur, ada juga yang main kartu, menonton TV, ataupun menghisap rokok di halaman. Aku sendiri? Aku mencoba untuk langsung tidur. Namun aku tidak bisa tidur sama sekali Aku begitu ingin sekedar mengajak mengobrol Arin dan itu membuatku sangat tidak tenang.
Jam telah menunjukkan pukul 2 pagi, mayoritas teman-temanku sudah tidur. “Ah mungkin jalan-jalan sebentar bisa membuatku mengantuk” pikirku. Aku pun diam-diam keluar vila tempat kami menginap. Menyusuri jalanan pegunungan yang begitu gelap, sunyi dan dingin. Suasana yang sungguh cocok dengan keadaanku saat ini.
Tak sengaja aku melihat bunga Rhododendron tumbuh lebat di sebuah kebun yang tak terurus. “Wah beruntung banget menemukan bunga ini” gumamku. Bunga itu mengingatkanku pada  Arin. “Hmm. Mungkin jika aku berikan bunga ini kepadanya, dia akan senang”.
Setelah memetik tiga bunga aku bergegas kembali ke dalam vila, menyelinap ke tempat parkir dan mencari mobil milik Arin. Honda Jazz bewarna kuning itu terparkir di tempat paling pojok tempat parkir. “Beruntung, dengan begini tidak ada yang melihatku” pikirku. Membuka mobilnya memang seharusnya mustahil, namun di saat tadi aku memperhatikan dia memarkir mobil, kulihat dia lupa mengunci mobilnya lagi, dan Bravo! mobilnya benar-benar tidak terkunci. Kuselipkan bunga ke bawah jok beserta kertas yang mengajak untuk bertemu pada Jumat depan pukul 2 siang. Setelah itu aku bergegas kembali ke kamarku dan berusaha untuk tidur.
Acara pengakraban angkatan jurusan ini berakhir pukul 1 siang. Beberapa ada yang langsung pulang, ada juga yang memilih foto-foto terlebih dulu. Teman yang aku ikut membonceng ingin langsung pulang. Aku tinggal menurut saja, walau aku ingin melihat reaksi Arin saat mengetahui ada bunga di bawah jok mobilnya.
***
“Asistensi sama dosennya molor banget” gumamku sambil melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 2 siang tepat. Segera aku memacu CBR milik temanku yang aku pinjam menuju tempat yang aku janjikan kepada Arin. yaitu di restoran yang harga es teh saja Rp.5000,00. Selama lima hari ini aku sengaja untuk puasa dan menghemat berbagai pengeluaran agar saat di sana aku tidak memalukan karena tidak mampu membayar.
“Waduh, sudah semakin telat” gumamku saat melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 2 lebih 15. Tanpa sadar saat aku melihat jam tanganku, ada mobil yang menyalip tepat di depanku. Tabrakan sudah tidak dapat dihindari lagi, aku terjatuh, motornya hancur, kepalaku berdarah.
“Haah... sialan!... Lagian buat apa aku ngebut, Hosh...hosh... lagian dia pasti tidak ada di sana” gumamku di tengah-tengah kesadaranku.
Saat kesadaranku semakin menipis, aku melihat mobil Jazz kuning dengan plat nomor yang sangat kukenal melaju dari arah restoran yang aku tuju. Saat jendela mobil tersebut dibuka, kesadaranku telah hilang.
***
 Aku terbangun di sebuah bilik di puskesmas. Ku melihat 2 pria dan satu wanita sedang duduk di dalam bilik yang sama denganku.
“Eh udah bangun akhirnya. Syukurlah, jauh-jauh aku dari kost kemari karena dikabari ibu kost kalau engkau terkena kecelakaan” kata sang pria.
“Iya syukurlah. Masalah motor jangan khawatir. Motornya sudah aku asuransikan kok” kata pria yang satu lagi.
“Lagian kamu ngapain sampai di sana Faris? Kostmu kan berlawanan arah. Sampai pinjam motor Feizal segala” tanya si wanita.
“Ah Arin, Faris baru bangun. Jangan langsung tanyain seperti itu. Dia pasti masih shock” tegur Feizal kepada Arin.
“Yaudah deh kami balik dulu. Ada kelas jam 6 nanti” ujar Feizal mengucapkan salam kepadaku. Mereka lalu berkemas dan segera meninggalkan ruangan.
“Ah kau sudah bangun ya” kata seorang berjas putih yang baru saja masuk ke dalam bilik tempat aku berbaring.
“Bagaimana perasaanmu? Sepertinya kau terbentur sangat keras tadi” tanya pria tadi. “Apa kau tidak ingat siapa teman-temanmu tadi?” lanjutnya.

Mendengar apa yang pria tadi katakan membuatku tersadar. Aku bukannya tidak mengenal orang-orang tadi, namun aku lupa dengan mereka. Ingatanku selama 2 bulan ini ikut menghilang bersama aliran darah yang mengucur di jalanan. Perjuangan mencari ilmu, persahabatan, dan cinta. Semuanya menghilang. Perlahan, air mataku mengalir membasahi pipiku yang seharusnya masih terasa sakit. Namun rasa itu masih kalah dengan rasa sakit di hatiku karena kebingungan yang kurasakan. APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar