Matanya begitu indah, dengan lentik
bulu mata yang melengkapi kecantikannya. Di malam keakraban ini lagi-lagi aku
hanya dapat memandang setengah wajahnya, tidak lebih. Aku selalu merasa minder
untuk mendekatinya. Cewek yang tinggal di kost elit, biasa makan di tempat yang
mahal, biasa memegang handphone I-Phone
terbaru itu sama sekali bukan jangkauanku yang hanya tinggal di kost yang
kumuh, handphone pabrikan tiongkok
dan setiap harinya sering makan mie instan, itupun dua kali sehari.
Awal aku mengenalnya di saat ospek
jurusan dulu, saat kami diberikan tugas untuk mencari biodata teman-teman
angkatan satu jurusan. Si cantik itu bernama Arin. Saat awal aku melihatnya,
aku sudah tertarik kepadanya. Ingin sekali aku mengenalnya lebih.
Namun tugas
ospek tetaplah tugas ospek, walau aku berhasil mendapatkan biodatanya,
perkenalan kami hanya sampai di situ saja. Mungkin sekarang dia sudah lupa dari
mana aku, di mana kostku, atau malah siapa namaku.
“Baiklah, karena sudah larut,
sekarang teman-teman semua dipersilahkan untuk beristirahat di kamar
masing-masing” tutup MC acara makrab kali ini, berusaha terlihat semangat walau
terlihat dia begitu kelelahan. Beberapa temanku ada yang memilih langsung
tidur, ada juga yang main kartu, menonton TV, ataupun menghisap rokok di
halaman. Aku sendiri? Aku mencoba untuk langsung tidur. Namun aku tidak bisa
tidur sama sekali Aku begitu ingin sekedar mengajak mengobrol Arin dan itu
membuatku sangat tidak tenang.
Jam telah menunjukkan pukul 2 pagi,
mayoritas teman-temanku sudah tidur. “Ah mungkin jalan-jalan sebentar bisa
membuatku mengantuk” pikirku. Aku pun diam-diam keluar vila tempat kami
menginap. Menyusuri jalanan pegunungan yang begitu gelap, sunyi dan dingin.
Suasana yang sungguh cocok dengan keadaanku saat ini.
Tak sengaja aku melihat bunga Rhododendron tumbuh lebat di sebuah
kebun yang tak terurus. “Wah beruntung banget menemukan bunga ini” gumamku. Bunga
itu mengingatkanku pada Arin. “Hmm.
Mungkin jika aku berikan bunga ini kepadanya, dia akan senang”.
Setelah memetik tiga bunga aku
bergegas kembali ke dalam vila, menyelinap ke tempat parkir dan mencari mobil
milik Arin. Honda Jazz bewarna kuning itu terparkir di tempat paling pojok
tempat parkir. “Beruntung, dengan begini tidak ada yang melihatku” pikirku.
Membuka mobilnya memang seharusnya mustahil, namun di saat tadi aku
memperhatikan dia memarkir mobil, kulihat dia lupa mengunci mobilnya lagi, dan Bravo! mobilnya benar-benar tidak
terkunci. Kuselipkan bunga ke bawah jok beserta kertas yang mengajak untuk
bertemu pada Jumat depan pukul 2 siang. Setelah itu aku bergegas kembali ke
kamarku dan berusaha untuk tidur.
Acara pengakraban angkatan jurusan
ini berakhir pukul 1 siang. Beberapa ada yang langsung pulang, ada juga yang
memilih foto-foto terlebih dulu. Teman yang aku ikut membonceng ingin langsung
pulang. Aku tinggal menurut saja, walau aku ingin melihat reaksi Arin saat
mengetahui ada bunga di bawah jok mobilnya.
***
“Asistensi sama dosennya molor
banget” gumamku sambil melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 2 siang
tepat. Segera aku memacu CBR milik
temanku yang aku pinjam menuju tempat yang aku janjikan kepada Arin. yaitu di
restoran yang harga es teh saja Rp.5000,00. Selama lima hari ini aku sengaja
untuk puasa dan menghemat berbagai pengeluaran agar saat di sana aku tidak
memalukan karena tidak mampu membayar.
“Waduh, sudah semakin telat” gumamku
saat melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 2 lebih 15. Tanpa sadar saat
aku melihat jam tanganku, ada mobil yang menyalip tepat di depanku. Tabrakan
sudah tidak dapat dihindari lagi, aku terjatuh, motornya hancur, kepalaku
berdarah.
“Haah... sialan!... Lagian buat apa
aku ngebut, Hosh...hosh... lagian dia pasti tidak ada di sana” gumamku di
tengah-tengah kesadaranku.
Saat kesadaranku semakin menipis, aku
melihat mobil Jazz kuning dengan plat nomor yang sangat kukenal melaju dari
arah restoran yang aku tuju. Saat jendela mobil tersebut dibuka, kesadaranku
telah hilang.
***
Aku terbangun di sebuah bilik di puskesmas. Ku
melihat 2 pria dan satu wanita sedang duduk di dalam bilik yang sama denganku.
“Eh udah bangun akhirnya. Syukurlah,
jauh-jauh aku dari kost kemari karena dikabari ibu kost kalau engkau terkena
kecelakaan” kata sang pria.
“Iya syukurlah. Masalah motor jangan
khawatir. Motornya sudah aku asuransikan kok” kata pria yang satu lagi.
“Lagian kamu ngapain sampai di sana Faris?
Kostmu kan berlawanan arah. Sampai pinjam motor Feizal segala” tanya si wanita.
“Ah Arin, Faris baru bangun. Jangan langsung
tanyain seperti itu. Dia pasti masih shock” tegur Feizal kepada Arin.
“Yaudah deh kami balik dulu. Ada kelas
jam 6 nanti” ujar Feizal mengucapkan salam kepadaku. Mereka lalu berkemas dan
segera meninggalkan ruangan.
“Ah kau sudah bangun ya” kata seorang
berjas putih yang baru saja masuk ke dalam bilik tempat aku berbaring.
“Bagaimana perasaanmu? Sepertinya kau
terbentur sangat keras tadi” tanya pria tadi. “Apa kau tidak ingat siapa
teman-temanmu tadi?” lanjutnya.
Mendengar apa yang pria tadi katakan
membuatku tersadar. Aku bukannya tidak mengenal orang-orang tadi, namun aku
lupa dengan mereka. Ingatanku selama 2 bulan ini ikut menghilang bersama aliran
darah yang mengucur di jalanan. Perjuangan mencari ilmu, persahabatan, dan
cinta. Semuanya menghilang. Perlahan, air mataku mengalir membasahi pipiku yang
seharusnya masih terasa sakit. Namun rasa itu masih kalah dengan rasa sakit di
hatiku karena kebingungan yang kurasakan. APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG????
Tidak ada komentar:
Posting Komentar