Matanya begitu indah, dengan lentik
bulu mata yang melengkapi kecantikannya. Di malam keakraban ini lagi-lagi aku
hanya dapat memandang setengah wajahnya, tidak lebih. Aku selalu merasa minder
untuk mendekatinya. Cewek yang tinggal di kost elit, biasa makan di tempat yang
mahal, biasa memegang handphone I-Phone
terbaru itu sama sekali bukan jangkauanku yang hanya tinggal di kost yang
kumuh, handphone pabrikan tiongkok
dan setiap harinya sering makan mie instan, itupun dua kali sehari.
Awal aku mengenalnya di saat ospek
jurusan dulu, saat kami diberikan tugas untuk mencari biodata teman-teman
angkatan satu jurusan. Si cantik itu bernama Arin. Saat awal aku melihatnya,
aku sudah tertarik kepadanya. Ingin sekali aku mengenalnya lebih.