Selasa, 29 Desember 2015

Hati yang Tak Pernah Tersampaikan

Matanya begitu indah, dengan lentik bulu mata yang melengkapi kecantikannya. Di malam keakraban ini lagi-lagi aku hanya dapat memandang setengah wajahnya, tidak lebih. Aku selalu merasa minder untuk mendekatinya. Cewek yang tinggal di kost elit, biasa makan di tempat yang mahal, biasa memegang handphone I-Phone terbaru itu sama sekali bukan jangkauanku yang hanya tinggal di kost yang kumuh, handphone pabrikan tiongkok dan setiap harinya sering makan mie instan, itupun dua kali sehari.
Awal aku mengenalnya di saat ospek jurusan dulu, saat kami diberikan tugas untuk mencari biodata teman-teman angkatan satu jurusan. Si cantik itu bernama Arin. Saat awal aku melihatnya, aku sudah tertarik kepadanya. Ingin sekali aku mengenalnya lebih.

Minggu, 25 Januari 2015

Senyum Alami


“Ayo enggak papa. Yang lain juga gitu kok. Asal kita kompak, gak bakal ketahuan deh. Cuma bayar Rp. 25.000 aja . Lagiankan ini cuma buat jaga-jaga” bujukku ke Rudi.
“Gak. Aku gak bakal mau pake gituan. Maaf” jawab Rudi.
Rudi memang keras kepala, dia selalu mempertahankan idealismenya. Berapa kalipun dibujuk, dia tak akan mau membeli kunci jawaban Ujian Nasional mendatang. Padahal dia langganan remedial di kelas. Tapi tetap saja dia  keras kepala. Bahkan mencontek pun dia tidak mau.
“Terserah deh. Hanya kamu satu-satunya yang gak mau beli di sekolah ini. Tapi tolong, demi teman-temanmu, jangan bilang ke guru” pintaku padanya.
 “Iya. tahu” jawab Rudi singkat dan bergegas pergi  dari pandanganku.
* * *