Rabu, 10 Desember 2014

Pelajaran

"Achmad Rudiansyah" panggil Pak Haris, guru matematikaku. "Selamat nilaimu terbaik lagi" ucap Pak Haris sambil tersenyum.
"Iya pak. Terima kasih" jawabku.
Kulihat lembar ulanganku yang bertuliskan angka 90 di pojok kanan atas. "Yess, tertinggi lagi" pikirku.
"Weh tertinggi lagi lu. Ajarin dong lain kali" Kata Wahyu kepadaku.
"Iya-iya. kapan-kapan kalo senggang" jawabku asal.
"Yahh. senggangnya kapan? lu itu sok sibuk terus" jawab wahyu dengan nada sedikit protes.
"Iya-iya. Nanti kamu bisa kerumahku" jawabku.
"Weh beneran nih? yeay,  gw  ajak
Santi, Rofi ama Andri dulu ya. biar rame" jawab Wahyu dengan semangat.
Aku yang melihat tingkahnya jadi menahan tawa. "Masak dia lupa sih? kalo hari ini aku ada les?" pikirku.
kuperhatikan Wahyu yang dengan semangat mengajak Santi, Rofi dan Aan yang duduk dekat dengan bangku kami. Dan... Wala, tepat dugaanku, Wahyu langsung nyengir ke arahku. tawa yang kutahan akhirnya meledak juga.
"Sialan lu Rud. lu selalu aja..." 
"Wahyu Nugroho...." Kata seisi kelas bersamaan mengingatkan Wahyu bahwa namanya telah dipanggil Pak Haris yang memaksa Wahyu memotong bicaranya. Wahyu pun mengambil nilai ulangannya yang jauh di bawah nilai Rudi.
"Oh ya Anak-anak. Minggu kemarin Bapak sudah bilang kan kalo akan ada anak pindahan ke kelas ini?" Kata Pak Haris memecah kericuhan kelas
"Haah? pindahan? siapa?" tanyaku pada Wahyu.
"Ehh. lu gak tahu? oh iyaya, waktu itu kan lu bolos dengan alasan sudah bosan ama pelajarannya" jawab Wahyu.
"Oh." Jawabku.
"Ya dia  nanti akan kemari sama guru piket" kata Pak Haris.
"Wah kalo aku masuk kelas jam segini, pasti udah disuruh Pak Haris berdiri" Celoteh Andri, yang tidak ia sengaja celotehnya terdengar oleh seluruh siswa di kelas, termasuk Pak Haris.
"Muhammad Andriyono, absen 27 pak" kata Santi bercanda. seluruh kelas pun tertawa, pak Haris hanya tersenyum.
TOK-TOK-TOK. bunyi pintu diketuk, ternyata itu Pak Udik bersama seorang cewek putih berjilbab, tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak pendek. "Oh. pasti ini anak baru itu. sepertinya anak biasa" pikirku.
"Ya anak-anak. ini Rina Ardiana, anak yang pindah ke sekolah ini. Dia akan dipindah ke kelas ini mulai besok" kata Pak Udik?
"Alah. Kok besok pak" Kata anak-anak cowok dengan nada menyesal.
"Haah. Kalian ini ada anak baru masih saja gitu.Yaudah Rina, sebutkan alasannya" Jawab Pak Udik.
"Eh saya pak? mm.. iya... a..ku.. masuk.." jawab Rina terbata-bata karena gugup.
"Eh volume radionya tolong gedein. gak kedengeran nih" Celoteh Andri dengan nada bercanda.
"Andri.. Jangan gitu sama anak baru" Kata Pak Haris.
"I-iya pak" jawab Andri yang langsung melipat tangannya ke atas meja.
"Ya. intinya Rina masih butuh persiapan, jadi besok baru  bisa masuk kelas. Besok kalian harus menyambut Rina dengan baik" Kata Pak Udik.
"Siap Pak" jawab seisi kelas.
"Rina, ayo kembali. Kamu masih harus siap-siap buat besok kan?" Kata Pak Udik pada Rina.
"Iya pak" jawab Rina. Rina dan Pak Udik pun pergi dari kelasku, XI IPA 4. pelajaran matematika pun dimulai kembali.

* * *
Keesokan harinya, kelas jadi ramai. Tidak hanya anggota kelas XI IPA 4 yang ada disana, namun kelas-kelas lain pun ikut menghiasi kelasku karena ingin berkenalan atau sekedar melihat cewek pindahan itu. Tapi tidak untukku, aku sama sekali tidak peduli dengannya.
“Lho? Kok tempat duduknya udah diundi lagi? Ini kan Sabtu” tanyaku pada Sofi, yang merupakan seksi urusan tempat duduk.
“Iya. Sekalian, biar cowok-cowok gak pada ricuh pengen duduk sama anak baru itu. Kamu gak pengen duduk sama dia mas Pinter?” goda Sofi
“Ogah. Kenal aja enggak. Bisa-bisa nanti dia malah ganggu aku saat merhatikan pelajaran” jawabku ketus sambil menarik undian.
“Kayaknya kamu gak pernah merhatikan pelajaran deh. Kamu sering ngegame sendiri kalo duduk dibelakang” jawab Sofi sambil mengambil kertas undianku, dan melihat dimana tempat dudukku berada.
“Weh. Selamat. Kamu duduk sama Rina dibangku sana.” Jawab Sofi.
“Ehh serius kamu ?” jawabku kaget, betapa tidak beruntungnya tanganku ini.
“Iya. Dah cepet. Yang lain masih antri buat ambil undian tuh” Jawab Sofia menunjuk teman-teman yang ada dibelakangku. terpancar wajah iri pada mereka. “Apa sih bagusnya duduk ama murid baru?” pikirku.
Aku berjalan menuju bangku ketiga dari depan pinggir jendela yang begitu ramai sama tamu-tamu dari berbagai penjuru kelas yang mengerubungi Rina, cewek yang saat ini bergelar murid baru.
“Minggir. Itu tempatku” Kataku kasar ke tamu-tamu itu.
“Eh apaan sih” jawab mereka.
“Kalian gak sadar ini jam berapa? Hampir jam 7 nih, kelas kalian semua jauh kan? Butuh berlari untuk sampai ke kelas kalian” jawabku.
“Eh Masa? Yaudah deh cabut dulu. Udah ya Rina” jawab mereka sambil berpamitan dengan Rina.
“Iya. Makasih ya” jawab Rina dengan senyum lebar. Tamu-tamu itu pun langsung bergegas pergi dari kelas.
“Kamu juga. Aku mau duduk dekat jendela” kataku pada Rina.
“Oh. Kenapa emang?” jawab Rina penasaran
“Gak usah banyak tanya. Kepo sih” jawabku. Rina pun langsung geser dari tempat duduknya. Kuletakkan tasku dan duduk dibangku VVIP-ku.
“Emm. Namamu siapa? Namaku Rina Ardiana, dipanggil Rina” kata Rina ramah.
“Iya tahu. Namaku Rudi” jawabku cuek.
Bel masuk pun berbunyi. Bu Lisna, Guru Fisika segera masuk kedalam kelas XI IPA 4 dan membuka pelajaran hari ini.
“Ya, keluarkan selembar kertas.” Kata Bu Lisna.
“Ehh. Rina gimana bu? Dia baru masuk” jawab Andri.
“Rina? Rina siapa? Oh iyaya disini ada murid baru. Hmm mana yang namanya Rina?” tanya Bu Lisna.
“mmm Sa..saya Bu” Jawab Rina gugup.
“Oh kamu tho. Kamu udah pernah belajar gerak parabola belum?” tanya Bu Lisna ramah.
“Su..sudah. Ke...kemarin saya sudah diberitahu sama Santi kalau hari ini ada ulangan” Jawab Rina yang mulai menguasai bicaranya.
“Lho? Darimana kamu kenal Santi” tanya Andri pada Rina yang duduk tepat dibelakangnya.
“Oh. Iya Santi satu kos sama aku” jawab Rina.
“Ya. Kalo gitu cepat kertasnya disiapkan” tegas Bu Lisna. Seisi kelaspun menyesali itu.
“Jangan coba-coba ganggu aku ya” ancam aku pada Rina
“Iya-iya. Lagian siapa coba yang mau ganggu?” jawabnya
“Huh. Sombong amat. Dia belum tahu siapa aku dikelas ini. Akan kubuat dia menarik kata-katanya. Hehe” pikirku.
Soal pun dibagikan oleh Bu Lisna, seisi kelas tenang dan mengerjakan ulangan itu sungguh-sungguh. Bunyi kocokan tip-ex, pulpen jatuh, menghiasi kelas itu. Setelah mengerjakan, langsung kami koreksi bersama-sama.
“Achmad Rudiansyah” panggil Bu Lisna, yang memasukkan nilai kedalam buku nilai.
“95 Bu” Jawab Wahyu, yang mengoreksi lembarku. Aku pun tersenyum mendengar itu. “Heh tertinggi lagi pasti” pikirku.
“Rina Ardiana”
“se..100 Bu” jawab Sofi. Seisi kelas pun kaget, termasuk aku. Manamungkin? Belum pernah ada dalam kelas ini yang mendapatkan nilai sempurna. Paling mencolok hanyalah nilaiku, itu saja hanya berkisar antara 85-96.
“Susanti”
“93 Bu” jawab Sonya. Belum selesai dengan nilai 100 Rina, seisi kelas kaget lagi dengan nilai Santi yang tiba-tiba naik drastis. Santi mendapat nilai 85 aja udah mentok, ini tiba-tiba jadi 93.
“Yeey. Rinaaaa. Makasih ya kemarin. Nanti aku mau merguru lagi sama kamu” kata Santi penuh riang. Kebetulan Santi duduk di samping bangku kami
“Iya. Nanti kita belajar bareng lagi” jawab Rina.
 “Sep” jawab Santi sambil mengacungkan jempol.
“Weee. Santi kamu curang, kok gak ajak aku sih. aku juga mau dong merguru ke Rina” kata Andri kepada Santi.
“Hahaha. Wani pira?” Jawab Santi dengan menengadahkan tangan.
“Kamu boleh gabung kok” kata Rina.
“Eh.. beneran nih? yeee” kata Andri sambil mengepal tangan keudara.
“Ehem. Andriyono...” kata Bu Lisna yang dari tadi memperhatikan Andri. Andri pun langsung melipat tangan dan menempelkan dagunya ke meja.
“Sombong” kataku.
“Iya terserah” jawab Rina cuek.
* * *
Hari demi hari berlalu, nilai ulanganku semakin jauh dibawah nilai Rina. Teman-temanpun pada meminta untuk merguru pada Rina. Hasilnya sangat memuaskan, nilai-nilai mereka banyak yang naik. Bahkan, Wahyu yang nilainya selalu dibawahku sekarang berada sedikit di atas dari nilai-nilaiku. Imbasnya, sekarang aku sudah tidak diakui sebagai siswa terpintar dikelas itu. Mereka lebih mengakui Rina. Teman-teman yang biasanya berusaha membujukku untuk mengajari mereka pun sudah hilang.
“Ya ini karena Rina, si anak baru itu telah mengambil segalanya dariku” pikirku dengan tangan mengepal. Tiba-tiba, senyum Santi dan kata-kata yang pernah dia katakan kepada teman-teman terlintas dalam pikiranku.
“Heh. Sialan ya kamu. Kamu telah memberiku pukulan telak, ah bukan. Kamu telah memberiku pelajaran. Ya, pelajaran buat orang sombong dan egois sepertiku. Tapi siap saja, aku akan mengambil apa yang telah kau ambil dariku” langsung kusiapkan buku dan di atas meja belajarku. Ibuku yang mengintip dari luar kamarku terheran padaku yang tiba-tiba mau belajar.

* * * *





Tidak ada komentar:

Posting Komentar