"Achmad Rudiansyah" panggil Pak Haris,
guru matematikaku. "Selamat nilaimu terbaik lagi" ucap Pak Haris
sambil tersenyum.
"Iya pak. Terima kasih" jawabku.
Kulihat lembar ulanganku yang bertuliskan
angka 90 di pojok kanan atas. "Yess, tertinggi lagi" pikirku.
"Weh tertinggi lagi lu. Ajarin dong
lain kali" Kata Wahyu kepadaku.
"Iya-iya. kapan-kapan kalo
senggang" jawabku asal.
"Yahh. senggangnya kapan? lu itu sok
sibuk terus" jawab wahyu dengan nada sedikit protes.
"Iya-iya. Nanti kamu bisa kerumahku"
jawabku.
"Weh beneran nih? yeay, gw
ajak
Santi, Rofi ama Andri dulu ya. biar rame" jawab Wahyu dengan semangat.
Santi, Rofi ama Andri dulu ya. biar rame" jawab Wahyu dengan semangat.
Aku yang melihat tingkahnya jadi menahan
tawa. "Masak dia lupa sih? kalo hari ini aku ada les?" pikirku.
kuperhatikan Wahyu yang dengan semangat
mengajak Santi, Rofi dan Aan yang duduk dekat dengan bangku kami. Dan... Wala,
tepat dugaanku, Wahyu langsung nyengir ke arahku. tawa yang kutahan akhirnya
meledak juga.
"Sialan lu Rud. lu selalu
aja..."
"Wahyu Nugroho...." Kata seisi
kelas bersamaan mengingatkan Wahyu bahwa namanya telah dipanggil Pak Haris yang memaksa Wahyu memotong bicaranya. Wahyu pun mengambil
nilai ulangannya yang jauh di bawah nilai Rudi.
"Oh ya Anak-anak. Minggu kemarin
Bapak sudah bilang kan kalo akan ada anak pindahan ke kelas ini?" Kata Pak
Haris memecah kericuhan kelas
"Haah? pindahan? siapa?" tanyaku
pada Wahyu.
"Ehh. lu gak tahu? oh iyaya, waktu
itu kan lu bolos dengan alasan sudah bosan ama pelajarannya" jawab Wahyu.
"Oh." Jawabku.
"Ya dia nanti akan kemari sama guru piket" kata Pak Haris.
"Wah kalo aku masuk kelas jam segini,
pasti udah disuruh Pak Haris berdiri" Celoteh Andri, yang tidak ia sengaja
celotehnya terdengar oleh seluruh siswa di kelas, termasuk Pak Haris.
"Muhammad Andriyono, absen 27
pak" kata Santi bercanda. seluruh kelas pun tertawa, pak Haris hanya tersenyum.
TOK-TOK-TOK. bunyi pintu diketuk, ternyata
itu Pak Udik bersama seorang cewek putih berjilbab, tidak terlalu tinggi, tapi
juga tidak pendek. "Oh. pasti ini anak baru itu. sepertinya anak
biasa" pikirku.
"Ya anak-anak. ini Rina Ardiana, anak
yang pindah ke sekolah ini. Dia akan dipindah ke kelas ini mulai besok"
kata Pak Udik?
"Alah. Kok besok pak" Kata
anak-anak cowok dengan nada menyesal.
"Haah. Kalian ini ada anak baru masih
saja gitu.Yaudah Rina, sebutkan alasannya" Jawab Pak Udik.
"Eh saya pak? mm.. iya... a..ku..
masuk.." jawab Rina terbata-bata karena gugup.
"Eh volume radionya tolong gedein.
gak kedengeran nih" Celoteh Andri dengan nada bercanda.
"Andri.. Jangan gitu sama anak
baru" Kata Pak Haris.
"I-iya pak" jawab Andri yang
langsung melipat tangannya ke atas meja.
"Ya. intinya Rina masih butuh
persiapan, jadi besok baru bisa masuk kelas. Besok kalian harus menyambut Rina dengan baik" Kata Pak Udik.
"Siap Pak" jawab seisi kelas.
"Rina, ayo kembali. Kamu masih harus siap-siap buat besok kan?" Kata Pak Udik pada Rina.
"Iya pak" jawab Rina. Rina dan
Pak Udik pun pergi dari kelasku, XI IPA 4. pelajaran matematika pun dimulai
kembali.
* * *
Keesokan harinya, kelas jadi ramai. Tidak
hanya anggota kelas XI IPA 4 yang ada disana, namun kelas-kelas lain pun ikut
menghiasi kelasku karena ingin berkenalan atau sekedar melihat cewek pindahan itu. Tapi tidak
untukku, aku sama sekali tidak peduli dengannya.
“Lho? Kok tempat duduknya udah diundi
lagi? Ini kan Sabtu” tanyaku pada Sofi, yang merupakan seksi urusan tempat
duduk.
“Iya. Sekalian, biar cowok-cowok gak pada
ricuh pengen duduk sama anak baru itu. Kamu gak pengen duduk sama dia mas
Pinter?” goda Sofi
“Ogah. Kenal aja enggak. Bisa-bisa nanti
dia malah ganggu aku saat merhatikan pelajaran” jawabku ketus sambil menarik
undian.
“Kayaknya kamu gak pernah merhatikan
pelajaran deh. Kamu sering ngegame sendiri kalo duduk dibelakang” jawab Sofi
sambil mengambil kertas undianku, dan melihat dimana tempat dudukku berada.
“Weh. Selamat. Kamu duduk sama Rina
dibangku sana.” Jawab Sofi.
“Ehh serius kamu ?” jawabku kaget, betapa
tidak beruntungnya tanganku ini.
“Iya. Dah cepet. Yang lain masih antri
buat ambil undian tuh” Jawab Sofia menunjuk teman-teman yang ada dibelakangku. terpancar wajah iri pada mereka. “Apa sih bagusnya duduk ama murid
baru?” pikirku.
Aku berjalan menuju bangku ketiga dari
depan pinggir jendela yang begitu ramai sama tamu-tamu dari berbagai penjuru
kelas yang mengerubungi Rina, cewek yang saat ini bergelar murid baru.
“Minggir. Itu tempatku” Kataku kasar ke
tamu-tamu itu.
“Eh apaan sih” jawab mereka.
“Kalian gak sadar ini jam berapa? Hampir jam 7 nih, kelas kalian semua jauh kan? Butuh berlari untuk sampai ke kelas kalian” jawabku.
“Eh Masa? Yaudah deh cabut dulu. Udah ya
Rina” jawab mereka sambil berpamitan dengan Rina.
“Iya. Makasih ya” jawab Rina dengan senyum
lebar. Tamu-tamu itu pun langsung bergegas pergi dari kelas.
“Kamu juga. Aku mau duduk dekat jendela”
kataku pada Rina.
“Oh. Kenapa emang?” jawab Rina penasaran
“Gak usah banyak tanya. Kepo sih” jawabku.
Rina pun langsung geser dari tempat duduknya. Kuletakkan tasku dan duduk
dibangku VVIP-ku.
“Emm. Namamu siapa? Namaku Rina Ardiana,
dipanggil Rina” kata Rina ramah.
“Iya tahu. Namaku Rudi” jawabku cuek.
Bel masuk pun berbunyi. Bu Lisna, Guru
Fisika segera masuk kedalam kelas XI IPA 4 dan membuka pelajaran hari ini.
“Ya, keluarkan selembar kertas.” Kata Bu
Lisna.
“Ehh. Rina gimana bu? Dia baru masuk”
jawab Andri.
“Rina? Rina siapa? Oh iyaya disini ada
murid baru. Hmm mana yang namanya Rina?” tanya Bu Lisna.
“mmm Sa..saya Bu” Jawab Rina gugup.
“Oh kamu tho. Kamu udah pernah belajar
gerak parabola belum?” tanya Bu Lisna ramah.
“Su..sudah. Ke...kemarin saya sudah diberitahu
sama Santi kalau hari ini ada ulangan” Jawab Rina yang mulai menguasai bicaranya.
“Lho? Darimana kamu kenal Santi” tanya
Andri pada Rina yang duduk tepat dibelakangnya.
“Oh. Iya Santi satu kos sama aku” jawab
Rina.
“Ya. Kalo gitu cepat kertasnya disiapkan”
tegas Bu Lisna. Seisi kelaspun menyesali itu.
“Jangan coba-coba ganggu aku ya” ancam aku
pada Rina
“Iya-iya. Lagian siapa coba yang mau
ganggu?” jawabnya
“Huh. Sombong amat. Dia belum tahu siapa
aku dikelas ini. Akan kubuat dia menarik kata-katanya. Hehe” pikirku.
Soal pun dibagikan oleh Bu Lisna, seisi
kelas tenang dan mengerjakan ulangan itu sungguh-sungguh. Bunyi kocokan tip-ex,
pulpen jatuh, menghiasi kelas itu. Setelah mengerjakan, langsung kami koreksi
bersama-sama.
“Achmad Rudiansyah” panggil Bu Lisna, yang
memasukkan nilai kedalam buku nilai.
“95 Bu” Jawab Wahyu, yang mengoreksi
lembarku. Aku pun tersenyum mendengar itu. “Heh tertinggi lagi pasti” pikirku.
“Rina Ardiana”
“se..100 Bu” jawab Sofi. Seisi kelas pun
kaget, termasuk aku. Manamungkin? Belum pernah ada dalam kelas ini yang mendapatkan nilai
sempurna. Paling mencolok hanyalah nilaiku, itu saja hanya berkisar antara 85-96.
“Susanti”
“93 Bu” jawab Sonya. Belum selesai dengan
nilai 100 Rina, seisi kelas kaget lagi dengan nilai Santi yang tiba-tiba naik
drastis. Santi mendapat nilai 85 aja udah mentok, ini tiba-tiba jadi 93.
“Yeey. Rinaaaa. Makasih ya kemarin. Nanti
aku mau merguru lagi sama kamu” kata Santi penuh riang. Kebetulan Santi duduk
di samping bangku kami
“Iya. Nanti kita belajar bareng lagi”
jawab Rina.
“Sep” jawab Santi sambil mengacungkan
jempol.
“Weee. Santi kamu curang, kok gak ajak aku sih. aku juga mau dong merguru ke Rina” kata Andri kepada Santi.
“Hahaha. Wani pira?” Jawab Santi dengan
menengadahkan tangan.
“Kamu boleh gabung kok” kata Rina.
“Eh.. beneran nih? yeee” kata Andri sambil
mengepal tangan keudara.
“Ehem. Andriyono...” kata Bu Lisna yang
dari tadi memperhatikan Andri. Andri pun langsung melipat tangan dan menempelkan
dagunya ke meja.
“Sombong” kataku.
“Iya terserah” jawab Rina cuek.
* * *
Hari demi hari berlalu, nilai ulanganku
semakin jauh dibawah nilai Rina. Teman-temanpun pada meminta untuk merguru pada
Rina. Hasilnya sangat memuaskan, nilai-nilai mereka banyak yang naik. Bahkan,
Wahyu yang nilainya selalu dibawahku sekarang berada sedikit di atas dari
nilai-nilaiku. Imbasnya, sekarang aku sudah tidak diakui sebagai siswa
terpintar dikelas itu. Mereka lebih mengakui Rina. Teman-teman yang biasanya
berusaha membujukku untuk mengajari mereka pun sudah hilang.
“Ya ini karena Rina, si anak baru itu
telah mengambil segalanya dariku” pikirku dengan tangan mengepal. Tiba-tiba,
senyum Santi dan kata-kata yang pernah dia katakan kepada teman-teman terlintas
dalam pikiranku.
“Heh. Sialan ya kamu. Kamu telah memberiku
pukulan telak, ah bukan. Kamu telah memberiku pelajaran. Ya, pelajaran buat
orang sombong dan egois sepertiku. Tapi siap saja, aku akan mengambil apa yang
telah kau ambil dariku” langsung kusiapkan buku dan di atas meja belajarku.
Ibuku yang mengintip dari luar kamarku terheran padaku yang tiba-tiba mau
belajar.
* * * *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar