Minggu, 25 Januari 2015

Senyum Alami


“Ayo enggak papa. Yang lain juga gitu kok. Asal kita kompak, gak bakal ketahuan deh. Cuma bayar Rp. 25.000 aja . Lagiankan ini cuma buat jaga-jaga” bujukku ke Rudi.
“Gak. Aku gak bakal mau pake gituan. Maaf” jawab Rudi.
Rudi memang keras kepala, dia selalu mempertahankan idealismenya. Berapa kalipun dibujuk, dia tak akan mau membeli kunci jawaban Ujian Nasional mendatang. Padahal dia langganan remedial di kelas. Tapi tetap saja dia  keras kepala. Bahkan mencontek pun dia tidak mau.
“Terserah deh. Hanya kamu satu-satunya yang gak mau beli di sekolah ini. Tapi tolong, demi teman-temanmu, jangan bilang ke guru” pintaku padanya.
 “Iya. tahu” jawab Rudi singkat dan bergegas pergi  dari pandanganku.
* * *

“Bay, nih aku bayar cicilanku yang terakhir” Kata Vina sambil menyodorkan 2 lembar Rp. 2.000.
“Oke bagus. Dengan gini aku langsung bisa tranksaksi dengan si calo. Akan ku BM langsung dia” kataku menerima uang dari Vina.
“Eh bay. Temenmu gak papa tuh? Sejak 2 minggu lalu dia sering menyendiri” tanya Diva padaku.
“Entah sih. Salah sendiri terlalu idealis. Padahal si pintar Rina aja ikut-ikutan beli kok” jawabku.
“Iya emang. Tapi ya bagus sih. Kalo dia masih kumpul sama kita dia bakal dapat info banyak buat ngasih info ke guru” kata Chandra.
“Dia sudah janji enggak ngelapor ke guru kok. Tapi memang aku gak tahu apa yang sedang dia pikirkan.” Jawabku memperhatikan Rudi yang sedang belajar di bangkunya.
Rudi yang sekarang memang terlihat seperti pribadi yang anti sosial. Dia memang tetap datang ke sekolah. Namun, dia jarang sekali mengobrol dengan teman-temannya. Dia sering belajar sendiri dan latihan soal-soal di buku persiapan UN di bangkunya. Saat istirahat atau jam kosong pun dia tetap seperti itu. Walau sekali-kali dia keluar kelas untuk membeli sedikit cemilan atau minuman.
Aku pernah sesekali mencoba untuk mendekatinya dengan duduk di sebelah bangkunya. Dia masih meladeni humorku seperti biasa. Dia juga terkadang senyum kepadaku. Tapi aku sangat mengerti bahwa senyumannya hanyalah senyum palsu.
“Bay...Bayu.” panggil Vina menyadarkanku dari lamunan.
“Ah Iya apa?” tanyaku.
“Mau ikut ke kantin gak? Jangan ngelamun aja” tanya Chandra.
“Ah enggak. Masih kenyang. Duluan saja” jawabku membiarkan mereka pergi. Aku lalu langsung mendekati Rudi yang sedang belajar.
“Rud. Kamu benar-benar bekerja keras ya. Mau belajar bareng gak? Kayak dulu” bujukku ke Rudi.
“Ehh. Kamu masih butuh belajar? Kurasa beli itu sudah cukup” goda Rudi.
“Kan sudah kukatakan berkali-kali. Itu Cuma jaga-jaga. Lagian kamu juga tahu kan, tahun lalu gak semua soal ada kuncinya.” Jelasku pada Rudi.
“Iya-iya. Besok ya di rumahku” jawab Rudi tersenyum. Masih dengan senyum palsu tentu.
* * *
Keesokan harinya aku pergi ke rumah Rudi. Rumah kami cukup dekat jika naik motor. Kalau jalan kaki? Jangan tanya lah. Karena kedekatan rumah kami inilah membuat kami cukup akrab.
“KLEK” suara kenok pintu kubuka. Aku yang baru sampai dibuat heran dengan keluarnya pria tak kukenal bertubuh kekar keluar meninggalkan  rumah Rudi.
“Eh jadi datang kamu Bay? Tak kira kamu gak jadi datang. Hahaha” celoteh Rudi sambil tertawa sedikit.
“Jadilah. BTW tadi itu siapa Rud?” tanyaku penasaran.
“Ah cuma tamu biasa” jawab Rudi singkat.
Aku yang masih penasaran dipersilahkan Rudi masuk ke rumahnya dan belajar. Tak disangka Rudi bisa mengerjakan soal-soal sulit dari buku persiapan UN. Tapi ada yang  membuatku lebih heran. Yaitu fakta bahwa hari ini Rudi  sedikit lebih ceria dari kemarin.
* * *
UN tinggal menyisakan dua minggu lagi. Kami semua telah siap menghadapi UN. Disamping karena sudah belajar cukup, kunci itu pun telah membuat kami lebih siap. Sang Calo sudah berjanji akan mengirimkan kunci itu ke hp masing-masing siswa lewat BBM.
“Hai Rud. Mau kemana?” tanyaku pada Rudi yang tak sengaja berpapasan denganku dari kantin.
“Oh Hai. Mau baca koran hari ini. Di taman sekolah. Mau ikut?” kata Rudi mengajakku.
“Oke” jawabku dan mengikutinya. “Eh Rud, kamu kan udah belajar keras dari dulu. Kalau nilaimu kalah sama aku, kamu gak marah kan?” tanyaku.
“Eh PD kali kamu. Tenang saja aku gak bakal marah kok. Ngomong-ngomong kamu masih bisa menghubungi si Calo?” tanya Rudi padaku.
“kemarin dia sama sekali tidak membalas. Cuma Delive. Kenapa emang?” kataku.
“Ohh. Enggak papa. Eh kayaknya berita utama koran hari ini menarik” kata Rudi menunjuk halaman koran yang terpampang di didekat mereka.
“Calo UN 2012-2014 Berhasil Ditangkap. Eh bukannya ini yang aku... yang aku...” kataku terbata-bata yang masih shock karena mengetahui bahwa calo yang disebut di koran itu adalah calo yang telah menjanjikan aku, bukan, tapi seluruh teman-temanku kunci UN tahun ini telah  ditangkap oleh pihak berwenang. Aku menoleh ke Rudi yang membaca koran itu dengan antusias, dengan senyumnya. Senyum alaminya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar