“Ayo enggak
papa. Yang lain juga gitu kok. Asal kita kompak, gak bakal ketahuan deh. Cuma bayar
Rp. 25.000 aja . Lagiankan ini cuma buat jaga-jaga” bujukku ke Rudi.
“Gak. Aku gak
bakal mau pake gituan. Maaf” jawab Rudi.
Rudi memang
keras kepala, dia selalu mempertahankan idealismenya. Berapa kalipun dibujuk,
dia tak akan mau membeli kunci jawaban Ujian Nasional mendatang. Padahal dia
langganan remedial di kelas. Tapi tetap saja dia keras kepala. Bahkan mencontek pun dia tidak
mau.
“Terserah deh. Hanya
kamu satu-satunya yang gak mau beli di sekolah ini. Tapi tolong, demi
teman-temanmu, jangan bilang ke guru” pintaku padanya.
“Iya. tahu” jawab Rudi singkat dan bergegas
pergi dari pandanganku.
* * *
“Bay, nih aku
bayar cicilanku yang terakhir” Kata Vina sambil menyodorkan 2 lembar Rp. 2.000.
“Oke bagus. Dengan
gini aku langsung bisa tranksaksi dengan si calo. Akan ku BM langsung dia”
kataku menerima uang dari Vina.
“Eh bay. Temenmu
gak papa tuh? Sejak 2 minggu lalu dia sering menyendiri” tanya Diva padaku.
“Entah sih. Salah
sendiri terlalu idealis. Padahal si pintar Rina aja ikut-ikutan beli kok”
jawabku.
“Iya emang. Tapi
ya bagus sih. Kalo dia masih kumpul sama kita dia bakal dapat info banyak buat
ngasih info ke guru” kata Chandra.
“Dia sudah janji
enggak ngelapor ke guru kok. Tapi memang aku gak tahu apa yang sedang dia
pikirkan.” Jawabku memperhatikan Rudi yang sedang belajar di bangkunya.
Rudi yang sekarang
memang terlihat seperti pribadi yang anti sosial. Dia memang tetap datang ke
sekolah. Namun, dia jarang sekali mengobrol dengan teman-temannya. Dia sering
belajar sendiri dan latihan soal-soal di buku persiapan UN di bangkunya. Saat istirahat
atau jam kosong pun dia tetap seperti itu. Walau sekali-kali dia keluar kelas
untuk membeli sedikit cemilan atau minuman.
Aku pernah
sesekali mencoba untuk mendekatinya dengan duduk di sebelah bangkunya. Dia masih
meladeni humorku seperti biasa. Dia juga terkadang senyum kepadaku. Tapi aku
sangat mengerti bahwa senyumannya hanyalah senyum palsu.
“Bay...Bayu.”
panggil Vina menyadarkanku dari lamunan.
“Ah Iya apa?”
tanyaku.
“Mau ikut ke
kantin gak? Jangan ngelamun aja” tanya Chandra.
“Ah enggak. Masih
kenyang. Duluan saja” jawabku membiarkan mereka pergi. Aku lalu langsung mendekati
Rudi yang sedang belajar.
“Rud. Kamu benar-benar
bekerja keras ya. Mau belajar bareng gak? Kayak dulu” bujukku ke Rudi.
“Ehh. Kamu masih
butuh belajar? Kurasa beli itu sudah cukup” goda Rudi.
“Kan sudah
kukatakan berkali-kali. Itu Cuma jaga-jaga. Lagian kamu juga tahu kan, tahun
lalu gak semua soal ada kuncinya.” Jelasku pada Rudi.
“Iya-iya. Besok ya
di rumahku” jawab Rudi tersenyum. Masih dengan senyum palsu tentu.
* * *
Keesokan harinya
aku pergi ke rumah Rudi. Rumah kami cukup dekat jika naik motor. Kalau jalan
kaki? Jangan tanya lah. Karena kedekatan rumah kami inilah membuat kami cukup
akrab.
“KLEK” suara
kenok pintu kubuka. Aku yang baru sampai dibuat heran dengan keluarnya pria tak
kukenal bertubuh kekar keluar meninggalkan rumah Rudi.
“Eh jadi datang
kamu Bay? Tak kira kamu gak jadi datang. Hahaha” celoteh Rudi sambil tertawa
sedikit.
“Jadilah. BTW tadi itu siapa Rud?” tanyaku
penasaran.
“Ah cuma tamu
biasa” jawab Rudi singkat.
Aku yang masih
penasaran dipersilahkan Rudi masuk ke rumahnya dan belajar. Tak disangka Rudi
bisa mengerjakan soal-soal sulit dari buku persiapan UN. Tapi ada yang membuatku lebih heran. Yaitu fakta bahwa hari
ini Rudi sedikit lebih ceria dari kemarin.
* * *
UN tinggal
menyisakan dua minggu lagi. Kami semua telah siap menghadapi UN. Disamping karena
sudah belajar cukup, kunci itu pun telah membuat kami lebih siap. Sang Calo sudah
berjanji akan mengirimkan kunci itu ke hp masing-masing siswa lewat BBM.
“Hai Rud. Mau kemana?”
tanyaku pada Rudi yang tak sengaja berpapasan denganku dari kantin.
“Oh Hai. Mau baca
koran hari ini. Di taman sekolah. Mau ikut?” kata Rudi mengajakku.
“Oke” jawabku dan
mengikutinya. “Eh Rud, kamu kan udah belajar keras dari dulu. Kalau nilaimu
kalah sama aku, kamu gak marah kan?” tanyaku.
“Eh PD kali kamu.
Tenang saja aku gak bakal marah kok. Ngomong-ngomong kamu masih bisa menghubungi
si Calo?” tanya Rudi padaku.
“kemarin dia sama
sekali tidak membalas. Cuma Delive. Kenapa
emang?” kataku.
“Ohh. Enggak papa.
Eh kayaknya berita utama koran hari ini menarik” kata Rudi menunjuk halaman
koran yang terpampang di didekat mereka.
“Calo UN 2012-2014
Berhasil Ditangkap. Eh bukannya ini yang aku... yang aku...” kataku
terbata-bata yang masih shock karena mengetahui bahwa calo yang disebut di
koran itu adalah calo yang telah menjanjikan aku, bukan, tapi seluruh
teman-temanku kunci UN tahun ini telah ditangkap
oleh pihak berwenang. Aku menoleh ke Rudi yang membaca koran itu dengan
antusias, dengan senyumnya. Senyum alaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar